Rabu, 27 Juli 2011

Liturgis (Tata Ibadah )

Add caption
                  Adanya perbedaan dalam tatacara dan praktek ibadah di suatu gereja, sehingga  banyak pendapat atau pemahaman yang berbeda. Akhirnya ada anggapan bahwa tata ibadah atau liturgi harus mengikuti zaman. Pendapat lain berkata bahwa liturgi harus tetap eksis atau sepadan seperti tata ibadah masa lampau, yaitu gereja mula-mula. Dari adanya perbedaan pendapat ini, harusnya perlu kita memahami dan melihat tata ibadah atau liturgy yang ada dalam alkitab, artinya kita harus kembali kepada otoritas tertinggi yaitu yang alkitabiah sekaligus sejalan dengan perkembangan zaman.
                  Liturgi yang di maksud, bukan hanya liturgy yang terdiri dari bentuk, atau urutan yang disusun sedemikian rupa , melainkan sebuah kemasan  yang diartikan secara global, dengan intinya tidak bertentangan dengan Alkitab. Apa saja yang di susun dalam liturgy harus di susun berdasarkan kepercayaan yang dalam. Bentuk-bentuk liturgy harus berakar dalam hati setiap anggota jemaat,  paham dan  kepercayaanya benar-benar dalam. Untuk itu  harus di kaitkan dengan kesadaran jemaat akan makna unsur-unsur liturgy itu sendiri.
                  Melihat aneka ragam liturgy yang berkembang saat ini perlu kita seleksi kembali, apakah itu sebuah liturgy yang alkitabiah, atau hanya mengikuti tren semata.
Pemahaman inilah yang akan membuat jemaat mengerti arti sebuah ibadah atau sebuah cara untuk mendekati Allah secara pribadi. Sebuah liturgy sangat mem
pengaruhi suasana hati didalam kerinduanya untuk bertemu dengan Allah.  

GAMBARAN LITURGI DALAM ALKITAB

                   Sering kali gereja menganggap bahwa ibadah hanya sama dengan pergi ke gereja lalu duduk ikut kebaktian minggu dan sudah cukup. Di gereja umat bisa bernyanyi memuji Tuhan atau kemudian umat diam untuk mendengar khotbah. Kemudian dilanjutkan dengan doa permohonan supaya rejeki senantiasa berlimpa buat kita menjadi kaya-raya dan pulang dengan penuh suka-cita. Dan sering terungkap kata, khotbahnya tidak ada yang lucu bahkan membuat ngantuk karena terlalu panjang, peminmpin pujiannya kurang bergairah, dan akhirnya yang menjadi sasarannya adalah sang pengkhotbah, khotbahnya jelek, tidak menarik, aplikasinya kurang, bahasanya terlalu tinggi dan sebagainya. Itu adalah pemahaman yang dangkal. Dan orang yang berpandangan seperti ini adalah orang yang mempunyai konsep bahwa ibadah itu hanya mendengar khotbah, padahal kalau di dalam satu kebaktian , ibadah itu mencakup keseluruhan, termasuk doa pembuka , pengumuman  sampai doa berkat, itulah yang di sebut liturgi. Dalam alkitab bisa memberikan satu gambaran yang jelas, terhadap sebuah tata ibadah atau liturgi. Dalam Yesaya 6 :1-8 dan dalam Markus 4:33  bisa kita melihat gambaran liturgi itu sendiri.


Dalam Kitab Yesaya

            Akhir-akhir ini  gereja perlu memperhatikan ada susunan liturgi yang konfrehensip, tujuannya adalah supaya kita yang berbakti di gereja lebih sungguh dibawa masuk di dalam ibadah yang lebih sungguh pada Tuhan. 
Sesuai dengan petunjuk yang diberikan , marilah kita perhatikan Yesaya 6 :1-8.
Dimana dalam kitab ini memaparkan beberapa unsur penting yang perlu kita perhatikan dalam hal susunan liturgi.

Puji-pujian kepada Tuhan.

                  Yesaya menyebutkan bahwa "Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemulianNya" Tiga kali berturut-turut Yesaya menyebut Tuhan sebagai TUHAN yang Kudus, ada yang mengatakan Yesaya menunjukkan ini kepada Allah kita yang Tri-tunggal itu. Bahwa sungguh Allah kita itu penuh dengan kekudusan dan itu sangat dipentingkan oleh TUHAN. Bagi Yesaya Allah yang kita sembah adalah Allah yang Kudus, oleh sebab itu kita juga harus datang kehadiratNya dengan penuh kekudusan. Segala tingkah laku kita, tutur kata kita, kehidupan pribadi kita, rumah tangga kita, pergaulan kita, usaha kita, pekerjaan kita harus kudus. Arti kata kudus itu berarti dipisahkan dari suatu tempat yang lain dalam arti yang lebih baik atau di asingkan ke tempat yang layak.

Pengakuan Dosa.

                  Yesaya mengatakan dalam ayat 5: "Celakalah aku! Aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat sang Raja yakni Tuhan semesta alam." Saudara, bagi Allah kita ini ibarat debu atau kotoran yang tiada artinya, apalagi ditambah dengan dosa-dosa yang kita perbuat. Itulah sebabnya dihadapan Tuhan, kita tidak ada arti apa-apa. Namun karena Anugerah serta Kasih sayang Tuhan kita yang tidak ada apa-apa telah diubah oleh Tuhan menjadi ada apa-apanya. Itu berarti yang mengubah kita juga adalah Tuhan, maka itu tidak layak kita sombong dan tinggi hati, siapapun kita. Perhatikanlah bahwa apa yang diceritakan Tuhan Yesus : "Ada seorang Farisi dan seorang pemungut cukai yang datang ke Bait Allah, mereka sama-sama hendak berdoa. Si orang Farisi mengatakan ia telah menjalankan ibadah dengan baik,
puasa dengan taat, memberi persembahan persepuluhan dan tidak melakukan dosa tidak seperti si Pemungut Cukai itu. Tetapi si Pemungut Cukai itu datang dengan penuh rasa bersalah, bahkan alkitab kita mencatat untuk menengadah ke langitpun ia tidak berani, lalu ia mengata-kan "Ampunilah aku yang berdosa ini." Dan apa yang terjadi? Tuhan Yesus mengatakan justru doa si Pemungut Cukai itu yang dikabulkan. Mengapa?.Bukankah si Farisi datang dengan kesungguhan hati juga? Cukup suci dan layak di dalam penilaian manusia?. Tuhan melihat di dalam diri orang Farisi ini ada kesombongan diri dan tidak adanya pengakuan dosa, ia selalu menganggap diri paling pandai, paling benar palinghebat dan sebagainya. Untuk pengakuan dosa itu ternyata tidak gampang, ada hal-hal yang cukup menyakitkan, tetapi yang paling penting adalah kita bisa diubah oleh Tuhan.
Add caption
 Pengampunan Dosa.
               Perhatikan Yesaya 6:6b: "Lihat, ini telah menyentuh bibirmu maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni. Kesalahan apapun yang diperbuat manusia dapat Tuhan Yesus bebaskan dan bersihkan melalui darah yang sudah dicurahkan di atas kayu salib. Oleh karena itu firman Tuhan yang tertulis di dalam Yesaya 1:8 mengingatkan kita bahwa "Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba." Inilah berita Anugerah dari Tuhan. Masalah apapun yang menimpa kita saat ini, baik kesulitan maupun sakit sebagai anak-anak Tuhan, percayalah bahwa bersama Tuhan kita sanggup menyelesaikannya. Persolannya adalah, pernahkah kita dengan jujur, dengan tekun, dengan taat, dengan setia, dengan air mata untuk datang kepada Dia untuk memohon pengampunan terlebih dahulu?.
                  Pengampunan dosa berisi berita Anugerah dari Tuhan. Pengampuan dosa bukan merupakan pengharapan bagi orang percaya atau sesuatu yang mudah mudahan
, tetapi merupakan kepastian, dan suatu kenyataan yang pasti.
Pengampunan dosa berarti suatu berita Anugerah bahwa Allah di dalam Kristus telah mendamaikan diriNya dengan dunia ini, berdasarkan kematian Kristus rela untuk mengampuni dosa kita.[3]
Tantangan dan Tekad.
                  Yesaya 6:8: "Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata " Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku? Maka sahutku "Ini aku, utuslah aku!" . Di dalam ibadah kita, khotbah bukan yang terpenting, tetapi salah satu dari yang perlu dipentingkan selain susunan acara yang lain. Tetapi yang perlu anda praktekkan adalah perintah Tuhan melalui firman-Nya. Yesaya dengan jelas mengatakan ia mendengar suara Tuhan. Ada sesuatu yang merupakan tantangan.    Allah juga tidak pernah memaksakan kehendakNya. Ia mau kita secara sukarela menyerahkan diri kepadaNya. Ikut kebaktian kalau perlu saja, artinya kalau pengkhotbahnya dari luar negeri, kalau terpaksa karena lagi mempersiapkan diri  mau menikah, sesudah menikah batang hidungnyapun tidak kelihatan lagi. Bagi jemaat Tuhan , biarlah setiap hari  mau  mengambil tekad untuk ismemperbaharui diri.  kalau setiap hari memperbaharui diri melalui firman Tuhan, Umat akan hidup penuh dengan ketenangan.
Dalam Injil Markus
                  Melihat dari pengajaran Kristus dan para Rasul-Rasul dalam Perjanjian Baru secara keseluruhan , Liliturgi sebenarnya memiliki dua kandungan esensi.
Pertama, liturgi adalah cerminan dari kehidupan sehari-hari, bukan sebuah imajinasi untuk akhir jaman dan kedua, liturgi mengandung Sabda, baik bentuk nyanyian maupun khotbah. Sehingga dapat dikatakan bahwa liturgi harus memiliki sebuah kata kunci yaitu pembumian (Markus 4:33) atau yang lebih dikenal dikalangan Protestan sebagai sebuah usaha kontekstualisasi, atau dalam bahasa gereja Roma Katolik disebut dengan inkulturasi. Istilah Inkulturasi sebenarnya berasal dari kata enkulturasi, yang berarti penyesuaian diri seorang pribadi manusia ke dalam suatu budaya tertentu, agar dia menjadi bagian budaya itu.[4]

Liturgi Sebagai Pembumian Sabda
                  Jika kita membaca dan merenungkan Sabda Kristus dalam Injil Markus 4:33, sejenak kita pasti akan mengarahkan perkataan Kristus kepada makna
perumpamaan (analogi). Metode pengajaran Kristus sangat menarik, karena pengajaran yang disampaikan-Nya tidak dalam formula metodologi dogmatis, namun justru bermetodologi analogis namun tetap realistis. Kristus mengajar dengan mendasarkan pada apa yang terjadi secara riil dalam kehidupan manusia, memanfaatkan bahasa alam dan diolah menjadi perumpamaan sehingga akrab bagi pendengar. Seperti dalam Kitab Injil, Kristus memanfaatkan konteks agraris masyarakat Yahudi sebagai "kacamata" pengajaran-Nya, sehingga jelas dikatakan bahwa Kristus mengajar sesuai dengan pengertian mereka. Demikian juga dengan sebuah liturgi yang memiliki arti makna lebih luas,:tidak hanya daripada sekedar struktur atau urut-urutan. Karena liturgi merupakan kaidah bakti yang bersifat menyeluruh.  Pernyataan tentang Inkulturasi ini didasarkan pada perwujudan Allah didalam Kristus dalam peredaran sejarah. Itulah proses yang memungkinkan Yesus Kristus hidup dan menyapa bangsa-bangsa dari setiap tempat dalam seluruh sejarah.[5]
                  Ada tiga model Inkulturasi yang dianjurkan oleh Forum Liturgi Asia

(1)..asimilasi kreatif, yaitu memasukkan unsur-unsur kebudayaan yang relevan ke dalam ibadah, namun tetap menjaga isi dan keutuhan dari makna liturgi. (2)
ekuivalensidinamis, yaitu  yang tetap mengacu pada struktur liturgi yang sudah ada, dan kita memasukkan ungkapan-ungkapan kebudayaan yang berpadanan dengan liturgi. (3)..Asimilasi kreatif-ekuivalensidinamis dengan menciptakan sebuah liturgi baru yang tetap mengakar pada konteks sosial budaya namun tetap menghargai warisan tradisi liturgi .[6]

Dari forum ini memberikan gambaran , bahwa liturgi di pandang sebagai  kemasan atau masalah tehnis, yang di sesuaikan dengan budaya, sosial dalam daerah jemaat.

Liturgi sebagai Usaha Kontekstualisasi
                  Bagaimanapun juga mau tidak mau kita harus mengakui bahwa liturgi yang ada sekarang ini bukanlah ada dengan sendirinya, namun telah melalui sebuah rangkaian pergumulan dan perjalanan dalam kesejarahannya, mulai dari liturgi Yudaisme (dari Israel kuno sampai kepada jaman Tuhan Yesus), kesejarahan dalam perjalanan liturgi Barat (Eropa) sampai saat ini dalam konteks Indonesia. Lalu, apakah liturgi saat ini sudah benar-benar mengakar dalam ke-Indonesiaan. Apakah kontekstualisasi liturgi  harus benar-benar mengaburkan bahkan menghilangkan nuansa Barat . Pdt. Prof. Emanuel Gerrit Singgih, Ph.D mengungkapkan:
 bahwa kontekstualisasi bukanlah sebuah sikap xenophobia yaitu sikap takut/anti asing (barat). Dalam Symbolum Apostolicum dikatakan percaya kepada gereja yang kudus dan am (katolik/universal). Berarti, Tuhan merangkul orang-orang dari berbagai suku dan bangsa, sehingga
kontekstualisasi mengandung makna konvergensi yaitu satu sama lain saling menghargai kepribadian masing-masing, satu sama lain belajar dari kekayaan masing-masing dan satu sama lain tidak memaksakan unsur-unsur kebudayaan sendiri sebagai "kebenaran Injil" yang harus diterima kalau mau selamat.[7]

                  Jadi, memahami liturgi  sebagai sebuah kontekstualisasi bukanlah menghilangkan unsur barat, namun justru belajar dari kekayaan historis barat untuk selanjutnya dipertemukan (didialogkan) dengan konteks Indonesia tanpa harus kehilangan citra diri keIndonesiaan. Atau dalam arti, tetap menaruh penghargaan terhadap sejarah namun juga tidak mengabaikan konteks budaya setempat.


[3]      Efesus 1:7
[4]      E. Martasudjita, PENGANTAR LITURGI Makna, Sejarah dan Teologi Liturgi, Yogyakarta, Kanisius 1999 hlm. 79

[5]      Dr.Nikolaus Hayon, SVD "FORUM LITURGI ASIA" dalam BERITA KEUSKUPAN MALANG THN XXII, No.4, JULI-AGUSTUS 1996, hlm.728

[6]      Ibid,.
[7]      EmanuelGerrit Singgih BERTEOLOGI DALAM KONTEKS Yogyakarta, Kanisius dan Jakarta, BPK Gunung Mulia, 2000, hlm. 25
                 


                   Oleh sebab itu, dalam memahami dan melayankan liturgi , hal-hal yang perlu mendapatkan perhatian adalah pengetahuan sejarah dari liturgi, termasuk penjelasan dari masing-masing unsur liturgi, kronologi sejarah terciptanya ritus-ritus atau simbol-simbol tertentu dalam liturgi  sehingga harus di warnai dengan warna Alkitabiah sekaligus memadukan dengan multicultural jemaat, bukan warna etnis tertentu.
                  Memasukkan unsur-unsur budaya yang relevan secara bergantian (seperti ungkapan-ungkapan dan simbol-simbol religius dan nyanyian gerejawi) agaknya sangat perlu demi membumikan liturgi dalam konteks masa kini. Bukankah perjumpaan dengan Tuhan akan menjadi bermakna jika terjadi dalam realitas kehidupan dan bukan dalam keterasingan .Menggalakkan atau memaksimalkan ibadah liturgis dengan partisipasi umat (ibadah partisipatif) dan bukan ibadah klerikal (seperti dalam nyanyian, mazmur tanggapan dan lain sebagainya). Menarik benang merah atau relevansi hari raya  gerejawi dengan makna saat ini (budaya lokal).
                  Dengan demikian, liturgi adalah sebuah bakti yang kontekstual, membaktikan diri kepada Tuhan dalam realitas keseharian dan bukan melarikan umat kepada sebuah keterasingan, karenaTuhan dan para Rasul memakai budaya manapun sebagai media menyembahan kepada-Nya sehingga manusia tidak bisa memaksakan (memonopoli) konteks sosial budaya tertentu kepada yang lainnya. Dari pelayanan liturgi sehingga membawa umat merasakan dan semakin dekat kepada Allah.

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar